
FAJARTIMURNEWS.com PINRANG — Sekitar lima hektare lahan persawahan milik petani di Lingkungan Libukang, Jalan Lasoda, Kecamatan Tiroang, Kabupaten Pinrang, terancam gagal panen akibat banjir yang terjadi sejak Rabu sore, 14 Mei 2026.
Banjir diduga dipicu keterlambatan pembukaan aliran pintu utama di pintu air Tonrosaddang, Jalan Ujung. Hujan deras diketahui mengguyur wilayah tersebut sejak pukul 15.00 WITA, namun pintu air disebut baru dibuka pada Kamis dini hari saat air telah lebih dahulu meluap dan merendam area persawahan warga.

Tanaman padi yang terdampak diketahui telah memasuki masa menjelang panen, sehingga genangan air dikhawatirkan menyebabkan kerusakan serius hingga gagal panen.
Salah seorang petani mengaku kejadian serupa bukan pertama kali terjadi.
Salah seorang petani mengaku kejadian serupa bukan pertama kali terjadi.
Ia menilai pengelolaan pintu air di wilayah tersebut perlu mendapat perhatian serius dari pihak terkait.
“Ini bukan kali pertama terjadi. Sawah kami sering terdampak banjir saat hujan deras. Kami berharap ada penanganan yang lebih cepat agar petani tidak terus dirugikan,” ungkap seorang petani kepada media.
“Ini bukan kali pertama terjadi. Sawah kami sering terdampak banjir saat hujan deras. Kami berharap ada penanganan yang lebih cepat agar petani tidak terus dirugikan,” ungkap seorang petani kepada media.
Dokumentasi yang diambil pada Jumat pagi, 15 Mei 2026 sekitar pukul 07.31 WITA menunjukkan genangan air masih merendam tanaman padi di titik koordinat -3.784691, 119.706376, tepatnya di Jl. Libukang, Marawi, Kecamatan Tiroang, Kabupaten Pinrang.
Para petani berharap pemerintah daerah bersama instansi terkait segera melakukan evaluasi terhadap sistem pengelolaan irigasi, khususnya di wilayah Tiroang. Mereka juga meminta adanya langkah cepat untuk mencegah kejadian serupa kembali terulang.
Selain itu, petani mendesak agar diterapkan sistem pengawasan dan piket 24 jam pada musim hujan, disertai SOP tanggap darurat untuk pengelolaan pintu air, sehingga keterlambatan penanganan tidak kembali merugikan masyarakat tani.
Petani juga berharap adanya perhatian dan pendampingan dari pemerintah terhadap warga yang sawahnya terdampak dan terancam gagal panen akibat banjir tersebut.
TIM

