FAJARTIMURNEWS.com Hujan turun, jalanan becek, aspal menempel tergesa, dan jembatan mendadak berdiri di tengah guyuran air. Begitulah pemandangan yang nyaris menjadi ritual setiap akhir tahun di banyak daerah. Proyek-proyek seolah hidup serentak, mesin-mesin berat meraung, dan para kontraktor berlari berpacu dengan waktu, bukan demi kualitas, tapi demi tenggat anggaran yang segera tutup buku.
Di tengah derasnya genangan itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudi Sadewa mengangkat satu fakta yang mengguncang nurani publik, uang rakyat ternyata lebih banyak tidur di rekening bank daripada bekerja untuk kesejahteraan masyarakat.
“Per September 2025, dana pemerintah daerah yang mengendap di perbankan mencapai Rp 234 triliun,” ungkap Purbaya dalam keterangannya, “bahkan sempat menyentuh Rp 254,4 triliun pada pertengahan tahun.”
Angka yang fantastis itu bukan sekadar statistik. Di baliknya tersembunyi pola lama yang kini mulai terbongkar “akal-akalan” proyek akhir tahun, tradisi birokrasi yang lebih sibuk mengejar serapan anggaran ketimbang manfaat nyata bagi rakyat.
Tulisan lama dari pengamat ekonomi Bang Rosadi pernah menyebut uang daerah yang mengendap bukanlah uang yang hilang, melainkan “uang yang sedang beristirahat dengan tenang.” Tapi Purbaya melihat lebih dalam istirahat itu bukan tanpa bunga.
Setiap rupiah yang diam di rekening bank ternyata menumbuhkan “harum bunga” dalam arti harfiah, bunga deposito. Semakin lama dana daerah disimpan, semakin besar pula hasilnya bagi pihak yang menyimpan.
Sebagai ilustrasi, jika Rp 500 miliar dibiarkan mengendap selama tiga bulan dengan bunga 4% per tahun, maka bunga yang didapat bisa mencapai lebih dari Rp 5 miliar. Uang yang seharusnya membangun jalan, sekolah, atau jembatan, justru bekerja menghasilkan bunga di rekening kas daerah.
“Uang diam bisa lebih produktif daripada pekerja lembur,” ujar seorang pengamat fiskal menanggapi fenomena ini. “Namun produktif bagi siapa?”
Bila dicermati, proyek infrastruktur di daerah sering baru bergerak di kuartal keempat. Jalan diaspal di tengah hujan, jembatan dibangun di saat arus sungai sedang tinggi, bahkan proyek drainase baru dimulai ketika genangan sudah terjadi.
Fenomenanya seolah serentak nasional. Dari Sumatera hingga Papua, kontraktor berlomba menuntaskan proyek sebelum tutup tahun. Tapi di balik semangat itu, Purbaya melihat alasan yang tidak seindah narasinya proyek dikebut bukan karena semangat membangun, melainkan karena bunga bank sudah “ranum untuk dipetik.”
Selama proyek belum jalan, dana belum dibelanjakan. Dan selama dana masih tersimpan di Rekening Kas Umum Daerah (RKUD), bunga tetap mengalir. Maka, sebagian pejabat daerah memilih menunggu membiarkan uang tidur dulu, hingga bunga cukup besar. Setelah itu, proyek digulirkan agar laporan serapan anggaran tetap terlihat heroik di akhir tahun.
Purbaya Yudi Sadewa dengan tegas mengingatkan: dana publik bukan untuk disimpan, tetapi untuk digerakkan. Setiap rupiah yang tidak segera digunakan berarti penundaan kesejahteraan. Dana transfer pusat yang seharusnya mengalir menjadi jalan, jembatan, atau pelayanan publik, justru menjadi “tabungan bunga” bagi segelintir pihak.
“Ini bukan soal teknis anggaran, tapi soal moral pembangunan,” kata Purbaya. “Kita tidak boleh membiarkan uang rakyat beranak-pinak di bank, sementara rakyat menunggu manfaatnya di jalan berlubang dan sekolah bocor.”
Pembangunan sejati, kata Purbaya, tidak lahir dari angka serapan tinggi di akhir tahun, melainkan dari konsistensi sejak awal tahun anggaran berjalan. Pengelolaan kas yang sehat bukan diukur dari berapa bunga yang tumbuh, tapi dari seberapa cepat uang itu kembali kepada rakyat dalam bentuk manfaat nyata.
Kini, Kementerian Keuangan mulai memperketat pengawasan atas kas daerah. Pemda yang terlalu lama menahan dana akan diminta memberikan penjelasan. Bahkan, opsi penyesuaian transfer tengah dikaji sebagai langkah disiplin fiskal.
Cerita proyek akhir tahun seharusnya menjadi cermin bahwa niat membangun sering kalah oleh kalkulasi bunga. Purbaya mengajak pemerintah daerah untuk mengubah pola pikir itu:
“Uang rakyat harus bekerja untuk rakyat. Kalau dibiarkan tidur, bukan hanya uangnya yang beku tapi juga hati nurani kita.”
Hujan boleh turun, jalan boleh becek, tapi pembangunan tidak harus menunggu bunga mekar. Saat dana publik benar-benar dikelola dengan integritas, barulah genangan bisa menjadi tanda kehidupan bukan tempat di mana moral pembangunan tenggelam.
Penulis : Andi Syam
Narasumber: Arisandi.M.Si.Purn TNI
Fajartimur.News.com


