Notification

×

Iklan

Iklan

MBG, Investasi Piring vs Investasi Otak: Menghitung Mundur Kenaikan IPM Indonesia

Sabtu, 28 Februari 2026 | 04:48 WIB Last Updated 2026-02-27T21:53:12Z


Oleh Sahade, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Makassar


FAJARTIMURNEWS.com Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kini menjadi perhatian publik bukan sekadar kebijakan sosial biasa. Di balik distribusi makanan kepada peserta didik, tersimpan pertanyaan mendasar: apakah ini sekadar investasi “piring”, atau benar-benar investasi “otak”? Bagi Sahade, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Makassar, arah kebijakan ini akan sangat menentukan laju kenaikan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia dalam beberapa tahun ke depan.

Menurut Sahade, pembangunan sumber daya manusia tidak dapat dilepaskan dari kualitas gizi. “IPM diukur dari tiga dimensi utama: kesehatan, pendidikan, dan standar hidup layak. MBG bersentuhan langsung dengan dua aspek pertama—kesehatan dan pendidikan. Jika dijalankan dengan benar, dampaknya bisa sangat signifikan,” ujarnya dalam kajian akademiknya.


-Belajar dari Standar Emas Jepang

Sahade mencontohkan keberhasilan Jepang dalam membangun generasi unggul melalui pendekatan yang sistematis terhadap gizi dan pendidikan. Jepang dikenal dengan filosofi Shokuiku (pendidikan gizi), sebuah konsep yang tidak hanya mengajarkan anak-anak untuk makan sehat, tetapi juga memahami nilai, budaya, dan tanggung jawab dalam mengonsumsi makanan.

Program makan siang sekolah di Jepang (kyushoku) bukan sekadar pembagian makanan gratis. Anak-anak dilibatkan dalam proses penyajian, belajar tentang komposisi gizi, bahkan menghargai petani dan rantai distribusi pangan. Hasilnya terlihat nyata: Jepang memiliki salah satu angka harapan hidup tertinggi di dunia dan kualitas pendidikan yang konsisten berada di peringkat atas global.

“Di Jepang, makan bukan sekadar kenyang. Itu bagian dari kurikulum. Negara tersebut menjadikan gizi sebagai fondasi kecerdasan kolektif bangsa,” jelas Sahade.

Pendekatan ini, menurutnya, menunjukkan bahwa investasi pada makanan harus terintegrasi dengan pendidikan karakter dan literasi gizi. Tanpa itu, program makan gratis hanya akan berhenti pada pembagian anggaran, bukan peningkatan kualitas manusia.

-Skala Raksasa India

Di sisi lain, Sahade juga menyoroti keberanian India melalui program Mid Day Meal Scheme, yang dikenal sebagai salah satu program makan siang sekolah terbesar di dunia. Program ini menjangkau lebih dari 120 juta anak setiap hari.

Skalanya luar biasa, tetapi yang lebih penting adalah dampaknya: peningkatan angka partisipasi sekolah, penurunan angka putus sekolah, serta perbaikan status gizi anak-anak dari keluarga miskin. Dalam jangka panjang, kebijakan ini berkontribusi terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia India, yang kini tampil sebagai salah satu kekuatan ekonomi global.

“India membuktikan bahwa program makan gratis bisa menjadi instrumen strategis pengentasan kemiskinan dan peningkatan kualitas pendidikan secara simultan,” kata Sahade.

Namun, ia juga mengingatkan bahwa India menghadapi tantangan besar dalam pengawasan kualitas dan tata kelola distribusi. Skala besar tanpa manajemen yang transparan dapat menimbulkan kebocoran anggaran dan ketimpangan kualitas.

-Menghitung Mundur Kenaikan IPM Indonesia

Indonesia saat ini berada dalam fase penting pembangunan manusia. Jika MBG diposisikan sebagai investasi otak—bukan sekadar investasi piring—maka efek gandanya bisa terasa dalam lima hingga sepuluh tahun mendatang.
Secara ekonomi, anak-anak dengan gizi baik memiliki daya konsentrasi lebih tinggi, prestasi akademik lebih baik, dan peluang produktivitas yang lebih besar saat memasuki dunia kerja. 

Dalam teori modal manusia (human capital theory), setiap rupiah yang diinvestasikan pada kesehatan dan pendidikan akan menghasilkan return jangka panjang berupa peningkatan pendapatan nasional.

“Jika 10–15 persen populasi pelajar Indonesia mengalami peningkatan kualitas gizi signifikan, dampaknya terhadap IPM bisa terlihat secara bertahap. Kita seperti sedang menghitung mundur kenaikan IPM Indonesia,” jelas Sahade.

Namun, ia menekankan beberapa syarat penting:

1. Standar gizi harus jelas dan terukur.
2. Pengawasan distribusi harus transparan dan akuntabel.
3. Program harus terintegrasi dengan edukasi gizi di sekolah.
4. Melibatkan UMKM lokal agar terjadi efek ekonomi berganda.

Tanpa empat pilar tersebut, MBG berisiko menjadi program populis jangka pendek.

- Investasi Piring atau Investasi Otak?

Sahade menyimpulkan bahwa perdebatan bukan pada perlu atau tidaknya program makan bergizi, melainkan bagaimana orientasinya. Jika hanya berfokus pada pengadaan makanan dan penyerapan anggaran, maka itu hanyalah investasi piring. Namun jika dirancang sebagai strategi pembangunan manusia yang terukur, berkelanjutan, dan berbasis data, maka ia menjadi investasi otak.

“Jepang memberi kita standar emas kualitas, India memberi kita pelajaran tentang skala. Indonesia harus mampu menggabungkan keduanya—kualitas dan jangkauan,” tegasnya.

Di tengah tantangan global dan bonus demografi yang terus berjalan, Indonesia tidak punya banyak waktu untuk ragu. Masa depan IPM Indonesia sedang dihitung mundur. Pertanyaannya GC sederhana namun krusial: apakah kita sedang membangun generasi cerdas, atau sekadar membagikan makanan?

Jawabannya akan terlihat dalam satu dekade mendatang—ketika generasi penerima MBG tumbuh menjadi penentu arah ekonomi dan peradaban bangsa.


Andi Syukriansyah

×
Berita Terbaru Update