FAJARTIMURNEWS.com Palu Sulteng. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Cabang Sulawesi menggelar Lokakarya Perlindungan Pekerja Perempuan Perkebunan Sawit di Sulawesi, pada Rabu (11/2/26) di Hotel Santika Palu, dibuka Sekretaris Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Sulteng Firdaus Abdul Karim, mewakili Gubernur Sulteng Anwar Hafid.
Kegiatan ini dirangkaikan dengan Pertemuan Pemangku Kepentingan dalam rangka mewujudkan sawit Indonesia ramah pekerja perempuan.
Gubernur Sulteng Anwar Hafid dalam sambutan tertulisnya dibacakan Firdaus, mengatakan, pekerja perempuan memiliki peran strategis dalam keberlanjutan industri kelapa sawit yang menjadi salah satu penopang utama perekonomian daerah.
Pemerintah Provinsi Sulteng memberi dukungan penuh pada dunia usaha yang memiliki komitmen kuat dalam menciptakan lingkungan kerja yang aman, sehat, dan ramah bagi pekerja perempuan di sektor perkebunan sawit. "Dalam konteks inilah, peran pekerja perempuan menjadi sangat penting, tidak terpisahkan dari rantai produksi industri kelapa sawit. Sebab itu, pemenuhan hak-hak pekerja perempuan, perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja (K3), pencegahan praktik diskriminasi serta penciptaan lingkungan kerja yang ramah perempuan di industri sawit Sulteng menjadi komitmen bersama antara pemerintah daerah, dunia usaha dan pekerja yang terus diperkuat, "katanya.
Ketua GAPKI Cabang Sulawesi Dony Yoga Perdana, mengakui masih adanya berbagai tantangan yang dihadapi pekerja perempuan di perkebunan sawit, antara lain beban kerja yang berat, paparan bahan kimia, ketidak-setaraan upah, status kerja yang tidak tetap serta keterbatasan akses terhadap jaminan sosial dan layanan kesehatan.
Selain itu, kata Dony, kasus kekerasan dan pelecehan ditempat kerja juga masih menjadi persoalan serius namun tidak terlaporkan.
Menurutnya, masalah ini menjadi salah satu upaya konkret untuk memperkuat perlindungan pekerja perempuan di sektor perkebunan sawit khususnya di pulau Sulawesi.
Sesuai data GAPKI, sekitar 10,68 proses tenaga kerja perempuan di industri kelapa sawit di pulau Sulawesi, menunjukkan peran signifikan perempuan dalam mata rantai produksi sawit.
Untuk perlindungan terhadap pekerja perempuan, kata dia, GAPKI sudah meluncurkan panduan praktis yang terus disosialisasikan kepada perusahaan anggota GAPKI sebagai rujukan dalam menjalankan praktik usaha yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.
Ia berharap, melalui lokakarya dan pertemuan dengan pemangku kepentingan ini, dapat terbangun komitmen bersama untuk meningkatkan kualitas perlindungan pekerja perempuan di industri kelapa sawit secara berkelanjutan.
"Perbaikan ini diharapkan tidak hanya untuk meningkatkan perlindungan pekerja perempuan tapi juga memperkuat citra sawit Indonesia, "tandasnya.
Hadir dalam kegiatan ini, Direktur Bina Pemeriksaan Norma Ketenagakerjaan Rinaldi Umar, Ketua Bidang Pengembangan SDM GAPKI Sumarjono Saragih, Ketua DPW APKASINDO Sulteng Siswanto, Ketua APINDO Sulteng Wijaya Chandra, perangkat daerah, perusahaan sawit, pekerja sawit perempuan, serikat pekerja, mahasiswa, pelajar dan mitra terkait.- (Ditha)

