FAJAR TIMUR NEWS.COM - Krisis air bersih akibat kemarau berkepanjangan masih membayangi pelayanan Perumda Tirta Bantimurung Maros, Hingga Senin (19/10/2026).
Instalasi Pengolahan Air (IPA) di Pattontongan, Kecamatan Mandai, telah berhenti beroperasi selama 54 hari akibat keringnya saluran air baku Bendung Lekopancing.
Direktur Perumda Tirta Bantimurung Maros, Muh. Shalahuddin mengatakan, kondisi tersebut berdampak terhadap sekitar 9.000 sambungan rumah (SR) di Kecamatan Mandai dan sekitarnya.
"Sejak tanggal 26 Agustus itu pengolahan kami yang ada di Pattontongan yang kapasitasnya 90 liter per detik itu off atau tidak berproduksi. Kalau kita menghitung dari sekarang itu sudah 54 hari," kata Shalahuddin.
Ia menyebut, krisis tahun ini lebih panjang dibanding dua tahun sebelumnya. Pada 2023 IPA tersebut off selama 45 hari dan pada 2024 selama 42 hari.
Untuk memenuhi kebutuhan pelanggan, pihaknya mengerahkan dua mobil tangki dan empat mobil pickap yang dilengkapi tandon air. Distribusi dilakukan berdasarkan laporan pengaduan dan hasil pemantauan di lapangan.
Untuk wilayah Turikale dan Maccopa, pelayanan disebut masih relatif berjalan meski di beberapa titik terjadi penurunan debit.
Siapkan Sumur Dalam
Untuk mengantisipasi kemarau serupa, PDAM merencanakan pembangunan sumur dalam di dua lokasi IPA, yakni Pattontongan dan Turikale. Kajian geolistrik telah dilakukan untuk mengidentifikasi potensi air tanah sebagai sumber air baku alternatif.
"Kami berencana mengantisipasi bila terjadi hal serupa lagi. Kemungkinan di dua instalasi kami, baik di Pattontongan maupun di Turikale, akan di-backup dengan sumur dalam," jelasnya.
Pengeboran tersebut diharapkan bisa direalisasikan pada 2027.
Rencana Penyertaan Modal Rp40 Miliar hingga 2030
Di tengah persoalan pasokan air baku, PDAM juga merencanakan pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM).
Shalahuddin menjelaskan, pihaknya sempat mengusulkan pengembangan SPAM senilai Rp75 miliar kepada Pemkab Maros. Usulan itu sempat dijajaki melalui skema pembiayaan PT Sarana Multi Infrastruktur (PT SMI) dan dinyatakan layak. Namun rencana pinjaman batal karena terkendala persyaratan administrasi berupa Peraturan Daerah (Perda) tentang penyertaan modal.
Sebagai alternatif, Pemkab Maros merencanakan tambahan penyertaan modal sekitar Rp40 miliar hingga 2030 yang akan dikucurkan bertahap sesuai kemampuan keuangan daerah. Saat ini Perda yang menjadi dasar penyertaan modal tersebut masih dalam proses pembahasan.
Target Tambahan 5.000 Pelanggan di Pesisir
Pengembangan SPAM juga diarahkan untuk memperluas layanan ke wilayah pesisir. Salah satunya rencana peningkatan kapasitas instalasi di Bantimurung sebesar 60 liter per detik untuk melayani Kecamatan Bontoa, Lau, dan Maros Baru.
Tambahan kapasitas tersebut berpotensi membuka sekitar 5.000 sambungan rumah (SR) baru. Saat ini PDAM Tirta Bantimurung memiliki sekitar 24.000 pelanggan atau melayani sekitar 100.000 jiwa.
SPAM Mamminasata Ditargetkan Perluas Layanan Moncongloe
Selain pengembangan internal, PDAM juga menunggu realisasi pasokan dari SPAM Mamminasata yang dikelola Pemprov Sulsel. Dalam skema tersebut, Maros direncanakan mendapat alokasi 130 liter per detik yang dapat melayani sekitar 10.000 pelanggan dan akan diprioritaskan untuk Kecamatan Moncongloe.
"Sekarang ini kita menunggu pelayanan SPAM Mamminasata. Di situ kita dapat 130 liter per detik, yang rencananya pelayanan sudah bisa ready pada 2027, paling lambat 2028," tutup Muh.Shalahuddin.


